Friday, March 14, 2008

Mendukung UKM Merancang Program Corporate Social Responsibility

Oleh : Adri Yanti Rivai


Semangat dan kesadaran perusahaan untuk menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR) semakin besar. Konsep CSR bukan lagi sekedar isu penting, tetapi menjadi bagian dari strategi bisnis. Sedemikian strategisnya, sehingga beberapa tahun belakangan banyak diselenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan CSR. Mulai dari seminar sampai pembentukan forum korporasi untuk pengembangan masyarakat..

Astra, Unilever, General Electric, Indofood, Newmont, dan Citibank dan beberapa perusahaan lainnya menyisihkan dana dan merancangkan program CSR sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Bagi perusahaan besar atau multinasional seperti itu meyediakan dana, merancang dan melaksanakan program CSR tentu bukan masalah. Bagaimana dengan perusahaan skala kecil dan menengah yang juga memiliki keinginan untuk melaksanakan kegiatan CSR?

Perusahaan berskala kecil dan menengah (UKM) atau bahkan kalangan profesional yang mandiri seperti dokter, pengacara, konsultan manajemen dan sebagainya tentu dapat melakukan kegiatan CSR. Dengan keterbatasan-keterbatasan yang mereka miliki; sumber daya manusia (mungkin juga keterampilan dan keahlian SDM) yang terbatas, modal kapital yang tidak besar, dan kemampauan manajerial yang juga terbatas, bagaimana mereka dapat berkomitmen untuk dapat memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitar perusahaan dan masyarakat secara umum?
Sejalan dengan definisinya sebagai sebuah pendekatan bagi perusahaan untuk mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan stakeholders (pemegang saham, karyawan, pelanggan, pemasok, komunitas, pemerintah dan kompetitor); UKM perlu memikirkan strategi program SCR secara tepat. Sehingga mempunyai dampak yang signifikan bagi masyarakat dan bagi perusahaan.
Berkaca pada kegiatan CSR yang telah dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar, UKM tentu tidak perlu terjebak pada pemikiran dan bentuk kegiatan-kegiatan CSR yang memerlukan sumber daya dan dana yang besar. Yang diperlukan adalah strategi program yang dapat memberikan kontribusi pada pembangunan dan pengembangan masyarakat secara berkelanjutan di seluruh negeri ini dan sesuai dengan kemampuan perusahaan. UKM dapat memilih program-program yang sejalan dengan bidang usahanya sehingga perusahaan tidak perlu secara khusus mengalokasikan dana yang besar. Perusahaan dapat mengarahkan sumber daya yang ada. Perusahaan juga dapat mendorong karyawan dengan keahlian dan keterampilan yang mereka miliki untuk terlibat secara aktif sebagai pelaksana program atau sebagai sukarelawan (volunteer). Perlu dipikirkan agar dampak positif dari program-program yang dilaksanakan haruslah berkelanjutan (sustainable) dan mendorong kemandirian masyarakat. Sehingga dapat menjamin perubahan yang telah berjalan, dapat terus dirasakan dan berkembang di tengah masyarakat meskipun perusahaan tidak lagi terlibat dalam kegiatan tersebut.
Bersama dalam Forum atau Konsorsium
Mendukung atau bergabung dalam suatu forum atau konsorsium adalah salah satu model CSR yang dapat diterapkan oleh perusahaan skala kecil dan menengah. Perusahaan turut bergabung dalam forum / asosiasi atau turut mendirikan, menjadi anggota atau mendukung suatu lembaga sosial yang didirikan untuk tujuan sosial tertentu. Dalam suatu forum atau konsorsium, program yang dilakukan bisa lebih mengarah kepada pengembangan masyarakat (community development) karena sumber daya untuk pelaksanaan program dapat ditangani secara bersama-sama. Jadi tidak hanya bersifat karikatif (charity) semata.

Proyek Universal Service Obligation (USO) sebenarnya merupakan sebuah contoh program CSR yang baik. Dana yang diperlukan untuk pembangunan jaringan telepon pedesaan ini diambil dari 0.75% keuntungan perusahaan yang bergerak di bidang informasi dan telekomunikasi. Dana ini nantinya akan dikelola oleh sebuah Badan Layanan Usaha, sedangkan pelaksanaan pembangunannya akan diserahkan kepada perusahaan yang mampu menyediakan layanan telekomunikasi dengan biaya murah. Think Tank-nya adalah Kelompok Kerja USO dari Masyarakat Telekomunika (Mastel). Sebuah kerjasama dengan peran masing-masing pihak untuk mewujudkan sarana telekomunikasi bagi masyarakat di daerah terpencil
Atau, perusahaan-perusahaan besar dapat menggandeng UKM dalam cluster bisnis yang sama untuk bersama-sama menjalankan kegiatan SCR yang telah dirancang. Sehingga program dapat menjangkau lebih banyak sasaran. Terutama daerah-daerah terpencil yang sangat memerlukan pengembangan dan pemberdayaan. Bentuk ini bisa dijalankan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki jaringan distribusi. Misalnya perusahaan air mineral, bisa melibatkan seluruh distributornya di seluruh Indonesia untuk melakukan program yang terkait dengan upaya penyediaan sarana air bersih dan pelestarian sumber daya air. Atau perusahaan ritel besar dengan seluruh UKM pemasok dan mitra bisnisnya di daerah-daerah untuk melaksanakan sebuah program yang komprehensif. Masing-masing mengambil peran dan tanggung jawab sesuai dengan bidang usaha dan kemampuannya
Dalam kebersamaan ini tentunya program yang akan dilaksanakan dapat difokuskan pada masalah-masalah yang benar-benar memerlukan perhatian khusus seperti pengembangan pendidikan, kesehatan, saranan dan prasarana umum, pemberdayaan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, pengembangan remaja, pelestarian lingkungan dan sumber daya alam, pencegahan dan penanggulangan bencana, dan masih banyak yang lainnya.
Ketika kita sadari bahwa negara tidak mampu secara sendiri menyediakan anggaran untuk pemberdayaan masyarakat, perusahaan dalam segala skala usaha bisa tampil mengambil alih sebagian peran dan tanggungjawab itu. Pemerintah tinggal membangun kesadaran dan mendorong pelaksanaannya secara konsisten. Salah satunya mungkin dengan pemberian insentif dari negara, yang sangat diperlukan terutama bagi perusahaan skala kecil dan menengah. Sehingga tanggung jawab sosial perusahaan ini benar-benar menjadi sesuatu yang baik dan menarik untuk dilakukan. [Bdg]

3 Comments:

Blogger cita-cita kemali said...

syukur bisa membaca tulisan anda. menambah rekan yang concern dengan implementasi csr. nasib rakyat miskin yang tak kunjung membaik, dana csr dari perusahaan yang idealnya jadi value eddit bagi masyarakat, pada prakteknya justru jadi sumber pendapatan baru bagi pemerintah.

7:46 PM  
Blogger noris helmi nordin said...

Maaf, sekadar ingin bertanya. Adakah saudari Yanti dari Universitas di Padang sekitar awal 90'an. Nama ini pernah di kenali ketika itu.

4:01 AM  
Blogger cita-cita kemali said...

teh, ini alamat e-mail saya (sebagai ketua Kemali) yusep_ai @yahoo.com. ada banyak hal tentang csr untuk didiskusikan.

10:39 AM  

Post a Comment

<< Home